Pages

Subscribe:

Minggu, 25 Desember 2011

Idonomic Aksi Demonstrasi Mahasiswa

Pemberitaan tentang aksi unjuk rasa mahasiswa yang diwarnai dengan tindakan pelemparan tinja terhadap polisi sungguh memprihatinkan. Jauh dari bayangan identitas kemahasiswaan yang disandang. Namun demikian, tidak bijak rasanya ketika pemberitaan tersebut kemudian mengaitkan tentang proses pendidikan di universitas tempat mereka mendapatkan identitas “mahasiswa”. Artinya, harus dipisahkan antara tindakan atas nama pribadi dan universitas. Kondisi yang kita saksikan akhir-akhir ini adalah murni tindakan personal mahasiswa tersebut dan tidak berhubungan langsung dengan nama universitas.

Jakarta, sebagai pusat peradaban sekaligus centre learning bagi seluruh institusi pendidikan di Indonesia. Sehingga apa yang terjadi di Jakarta akan sangat mempengaruhi penilaian masyakat kampus di seluruh tanah air.

Idonomic Demonstrasi

Etimology Idonomic adalah kolaborasi antara teori Freud tentang Id dan pragmatisme ekonomi. Ada sebuah pemahan yang telah diketahui secara luas bahwa setiap aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa adalah hasil korelasi kebutuhan ekonomi, pemanfaatan massa untuk suatu kepentingan tertentu. Bahkan, aksi besar-besaran yang menghasilkan lengsernya Soeharto pun tidak jauh dari faktor kepentingan dan juga pragmatisme ekonomi tersebut. Suatu ketika ada sebuah perbincangan kecil di Universitas tempat penulis kuliah, ..”demo yuk, lumayan ada budget buat makan..” dialog tersebut spontan dan bukan sebuah gurauan, artinya jelas di setiap aksi ada money.

Ideologi yang seringkali di agungkan oleh sebagian besar aktifis mahasiswa hanya sebuat bingkai fatamorgana, tidak pernah terbentuk dan mengkristal menjadi sebuah integritas akademic. Ini yang memperihatinkan sebenarnya. Freud, memberikan gambaran jelas bahwa individu seringkali terbawa arus Id, membutuhkan sebuah pemuasan secara instant dan terkadang seringkali mengabaikan Ego (rasional), apalagi super-ego (menilai tindakan). Kemudian kondisi ini yang menghasilkan manusia robot. Universitas di anggap sebagai pubriknya. Padahal tidak demikian, universitas dimanapun akan memegang teguh tridharma perguruan tinggi.

Bingkai Pendidikan

Frame of Education yang ingin saya tawarkan adalah pendidikan yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang unggul, mandiri serta memiliki ikatan rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan yang tinggi. Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan. Dan itulah yang saya sebut dengan istilah tanpa kata bersaing.

Mempertimbangkan pendidikan generasi sekarang sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak (peserta pendidikan) bagaikan sebuah plat fotografik, kerangka kosong yang tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya. Sehingga penting bagi pengajar untuk memahami dan mendeskripsikan apa yang seharusnya di isikan terhadap peserta didik. Tentunya dengan platform budi pekerti luhur.

Empat pilar pendidikan masa depan yang di sunting berdasarkan rancangan UNESCO dan perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan di Indonesia, Pertama, learning to Know. Konsep pertama ini diproyeksikan untuk memberikan pemahaman sekedar mengetahui sebagai prospek pertama kali dalam belajar. atau sekedar mendengarkan, artinya tugas guru lah yang menyampaikan materi pengajaran dengan benar (fasilitator), tanpa distorsi materi dan harus memiliki penguasaan yang mapan. Kedua, learning to do. Setelah konsep pertama tercapai maka beralih pada level yang lebih practically, yaitu belajar dengan cara mempraktekan apa yang telah di ajarkan dalam konsep pertama (belajar untuk melakukan sesuatu). dalam hal ini kita dituntut untuk terampil. Ketiga, learning to be. Pada level ini diharapkan peserta pendidikan mampu menjadikan dirinya sebagai agent dari generasinya, mampu menelaah fenomena sekitar dengan mengandalkan pemikiran yang bijaksana. Keempat, learning to live together. Konsep terakhir ini menawarkan bagaimana peserta didik sudah bukan lagi dalam tahap menerima, akan tetapi sudah pada tingkatan bermfaat bagi manusia lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar